Ting! Tong! Sekali lagi bel rumah dibunyikan. Kali ini yang datang adalah—
.
“Yeah, may I help you?” Zoe membuka pintu rumah Carlos. Di depannya, berdiri dua anak laki-laki yang lebih terlihat seperti anak hilang.
“Wow... Another british...” bisik Louis.
“Focus, Louis!” kata Niall. “Permisi, apa benar ini kediaman Carlos Garcia?”
Zoe mengangguk pelan dan menoleh ke belakang, memberi isyarat untuk Carlos agar menghampirinya.
“Kau Carlos Garcia?” tunjuk Louis.
“Yes, do we know each other?” Carlos menunjuk dirinya lalu menunjuk Louis dan Niall bergantian.
“Man, look at those muscles...” Louis membelak takjub saat melihat otot Carlos, Niall sekali lagi memberikan death-glare.
“Louis!”
“Sorry! Just saying!” Louis membela diri. “He’s definitely the person. Lihat saja badannya.” bisiknya lagi.
“I just started it, for your information, so it’s not that great.” kata Carlos.
“Kau tidak berotot waktu SMA?” tanya Louis.
“Nope.”
“Oh, then he must be the wrong person. I take that back,”
“Louis, mereka bisa mendengarmu!” kata Niall.
“Seriously, who are you guys?” tanya Carlos penuh kecurigaan.
“Aku Niall, Niall Horan. Dan ini Louis Tomlinson. Kami berdua siswa grade 10 di Palmwoods Academy,” Niall memperkenalkan diri.
“And, we know all about you guys!” tambah Louis semangat.
“Know what?”
“Kami tahu kalau satu setengah tahun yang lalu, kau pernah bekerja sama dengan FBI dalam kasus penyergapan sindikat narkoba—“
“—sorry, wrong person!”
BRUAK. Dan Carlos menutup pintu rumahnya dengan cepat lalu menguncinya, menyisakan Niall yang terdiam karena ucapannya dipotong, dan Louis yang diam tanpa tahu apa yang baru saja terjadi.
“What?”
.
“Carlos, siapa mereka?” tanya Zoe.
“Aku tidak tahu!” kata Carlos setengah panik.
“Siapa yang datang tadi?” tanya Kendall.
“Aku tidak tahu!!” Carlos makin frustasi. “Mereka tahu apa yang kita lakukan dengan FBI itu dulu,”
“What?!” koor Kendall dan Logan bersamaan.
“Kenapa mereka bisa tahu?!” kata Kendall.
“Ya, kita sepakat untuk tidak memberitahukan ini pada siapapun!” tambah Logan.
“I know,” Zoe mengangkat tangannya.
“You what?!” Logan makin kaget.
“Aku tahu kalian dulu memang terlibat kasus, tapi aku tidak tahu detil ceritanya seperti apa. Aku bahkan tidak tahu siapa FBI-nya, James tidak mau memberitahu.” kata Zoe.
“I’ve should know he wanted to show off—“desah Logan.
Kriiing! Tiba-tiba saja suasanya dikejutkan oleh dering telepon genggam Carlos. Nomor tanpa nama.
“Halo?”
‘Carlos, it’s Niall—‘
Carlos menekan tombol merah dan memutus pembicaraan.
“Bagaimana mereka tahu nomor teleponku?!”’
Kriiing!! Kali ini milik Kendall.
“Halo? Ini bukan Niall, kan?”
‘No, it’s Louis.’
Dan Kendall reflex memutuskan sambungan.
Kriiiing!! Semua menoleh ke arah Logan.
“Jangan diangkat...” bisik Carlos dengan suara direndahkan.
“It’s your mother, Carlos.” Logan menunjukkan layar telepon genggamnya dan melemparkannya pada Carlos.
“Ha... Halo?”
‘Carlos Garcia! Apa yang kau lakukan didalam, hah?!’
“M..Mami?”
‘Carlos! Cepat buka pintu sekarang!’
“Hang... Hang on!” Carlos cepat-cepat berlari ke depan dan membuka pintu rumah. Terlihat ibunya berdiri dengan wajah marah sementara Louis dan Niall bersembunyi di belakangnya sambil melambai kea rah Carlos.
“Carlos, kenapa kau tega membiarkan dua anak ini berdiri di luar saja?” tanya ibunya.
“Mami, you have no idea,” Carlos memberikan penekanan pada kata ‘no’.
“Ya, aku tahu! Niall dan Louis ini hanya anak laki-laki tidak berdaya yang ketinggalan tour bus mereka, mereka tersesat, kelaparan, dan capek, lalu kau sama sekali tidak menawarkan bantuan?!”
“Say... what?!”
.
Louis dan Niall sedang menikmati cokelat panas sementara Kendall dan Carlos duduk di hadapan mereka dengan tatapan tajam, Zoe sibuk membaca buku Kimia Atom, dan Logan sibuk di dunianya sendiri dengan Novel Ilmiah Psikopat.
“Okay, you’ve got my mom, now you meet us.” kata Carlos.
“Sejauh mana kalian tahu tentang kami?” tanya Kendall.
“Kami diberitahukan oleh Vice-Principal tentang kalian. Ada empat orang yang terlibat, Carlos Gerardo Garcia—“ Niall menunjuk Carlos.
“Kendall Donald Knight.” lanjut Louis.
“That’s me.” kata Kendall.
“Really?! Wow, you must be really great... See, Niall! Kalau melihat aslinya, aku jadi percaya kalau mereka memang terlibat dalam misi keren penuh aksi...” kata Louis terkagum-kagum.
“Lalu Hortense... Atau Logan... Or something?” Niall mengingat-ingat.
“Ya, Logan. Itu orangnya.” Kendall menunjuk kea rah Logan.
“No way!” kata Louis.
“Dia kutu buku dan terlihat lemah!” sambung Niall.
“Excuse me?!” Logan membuang novelnya ke belakang.
“Kami pun sebenarnya juga tidak percaya, tapi itu benar.” kata Kendall.
“Lagipula kalau dia terlibat, dia pasti tidak berbuat banyak dan hanya muncul sebagai penyemangat saja. Aku tidak bisa membayangkan geek sepertinya bisa memegang senjata dan bertarung.” kata Louis.
“Oh, you have no idea...” kata Logan sambil menatap Louis penuh makna. Louis yang terheran-heran hanya bisa melempar pandangan dengan Niall.
“Dengar, kalian berdua, hal itu benar-benar rahasia tertutup. Kalau orang tahu kami yang notabene waktu itu masih dibawah umur terlibat hal berbahaya seperti itu, FBI yang kami bantu bisa terlibat masalah. Kami juga! Itu catatan criminal!” kata Kendall.
“Lagipula, kalau kalian jauh-jauh dari Texas ke NY, pasti ada sesuatu yang penting kan?” tebak Carlos.
Louis dan Niall saling berpandangan. “Ya, tapi kami harus memberitahukan itu pada kalian berempat, dan kita kekurangan satu orang.” kata Louis.
“Kau serius mau kami memanggilnya, ini agak susah.” kata Kendall kurang yakin.
“Don’t worry, I can handle it.” jawab Carlos penuh percaya diri. “Logan?”
“What?”
“You are the brain! Give me plan!”
.
Sebuah Limo mewah berhenti di depan rumah Carlos. Di belakangnya, berderet mobil-mobil lain. Paparazzi dan wartawan langsung keluar dan mengelilingi Limo tersebut. Dari dalam, keluarlah pria cantik dengan leather jacket dan gaya necis plus kacamata hitam, James Diamond.
Sambil berjalan, James tetap tebar pesona di depan kamera sampai akhirnya, dia pun masuk ke dalam rumah Carlos dan—
“Holy crap! Finally, I can breath.” kata James sambil menghela nafas lega. Dia melepas kacamata hitamnya dan melakukan high-five dengan Carlos.
“Hai, James!” sapa Kendall.
“What’s up, buddy!” balas James, dan mereka berdua juga melakukan high five.
“Oke, I’m here, so—“ James menerawang, “Where’s Zoe?”
Logan melihat kea rah jam tangannya, “Dia pergi, sekitar... 30 detik yang lalu.”
“She what?!”
“Nah, sekarang orangnya sudah lengkap.” kata Logan. Rencananya untuk memanggil James dengan iming-iming ‘bertemu Zoe’ berhasil.
“You what?! Kalian menipuku?!”
“Not literally, Zoe tadi memang kesini.” kata Kendall.
“What, that ‘James’ is THE James Diamond?!” Niall shock.
“Siapa dua orang beraksen british ini?” tanya James.
“Mereka tahu tentang insiden 007 dulu,” kata Kendall.
“They what?!”
“Oke, langsung saja ke intinya,” kata Kendall. Tapi sebelum Louis dan Niall sempat membalas, keburu disanggah oleh James.
“Wait, wait! Banyak paparazzi dan wartawan diluar rumah Carlos. Bahaya kalau mereka tahu ceritanya,” kata James. “Logan, I need your help!”
“Never.”
“Argh... Well—“ James menoleh kea rah Carlos, tapi kemudian mengurungkan niatnya, “Tidak, kau actor yang buruk. Kendall! Help me!” James menarik Kendall ke depan dan mereka berdua sengaja berdiri di belakang pintu rumah Carlos.
“Oke, kita harus mengalihkan perhatian mereka. Pers suka skandal, jadi kita harus memikirkan sesuatu yang controversial dan seksi.” kata James.
“Bagaimana kalau—“ Kendall membisikkan sesuatu pada James.
“Got it!”
Mereka berdua lalu pindah ke dekat jendela dan memastikan wartawan bisa melihat mereka. James dan Kendall-pun memulai rencana mereka.
“Oh, Kendall! You’re not gonna believe this!” kata James setengah berteriak agar orang diluar bisa mendengar suaranya.
“Apa itu, James?!” balas Kendall.
“Aku mencium Selena Gomez di taman!”
“Astaga, James! Itu luar biasa!”
“Ya! Dan aku juga memukul pacarnya, lalu mencium Selena untuk kedua kalinya!”
“Cool! Aku bangga padamu! Sekarang kira-kira, dimana Selena Gomez itu?!”
“Kurasa dia masih di taman!! Sekitar dua jam dari sini!!”
“Oh, cool! Kalau bergegas, mungkin aku bisa bertemu dengannya, kan?!”
“You bet, Kendall!!”
Dan tidak butuh waktu lebih dari dua menit, semua paparazzi dan wartawan-pun pergi.
“That’s really stupid!” kata Carlos.
“We know.” kata James.
“Sekarang, kembali ke topic utama...”
.
“Jadi, Principal Rocque ingin kalian berempat menemuinya di DC, katanya penting dan ini menyangkut masa depan sekolah.” kata Louis.
“Kenapa kami, kami sudah lulus.” kata Kendall.
“Ya, dan semasa disana, kami juga bukan murid yang paling berprestasi, mencolok atau semacamnya,” kata Carlos.
“Kami juga tidak mengerti, kata wakil kepala sekolah, Principal Rocque percaya pada kalian,” jawab Niall. “Mungkin karena kalian pernah menangani kasus yang lebih kritis dari ini sebelumnya,”
“Well—Carlos? James?” Kendall menatap dua sahabatnya itu.
“I’m in, kenapa tidak?” kata Carlos.
“Aku sudah terlanjur kesini, jadi kenapa tidak sekalian break untuk beberapa hari?” tambah James. Lalu, mereka memandang ke arah Logan dan—
“Tidak.”
“What?!”
“I don’t wanna go! It’s stupid! Lagipula aku punya firasat jelek. Principal Rocque kenal kita lebih dalam karena kasus waktu itu, dan kalau kita pergi ke DC, kemungkinan ini hubungannya dengan Nick, Joe dan Kevin lagi!” kata Logan.
“So, problem?”
“Yeah! They’re like bad luck for me!” kata Logan. “Niall, Louis, apa ini ada hubungannya dengan FBI yang kami bantu dulu?”
“Well—“ Louis dan Niall saling diam dan berpandangan..
.
Yesterday.
“Jadi, ini rencananya. Aku dan Zayn akan ke DC untuk memanggil FBI-nya, lalu sisanya ke NY untuk memanggil empat alumni itu,” kata Liam.
“Kenapa harus aku yang menemanimu ke DC?” protes Zayn.
“I trust you,” Liam menepuk pundak Zayn dan menatapnya yakin.
“Tapi Vice-Principal Hawk bilang, jangan beritahu mereka kalau Principal Rocque memanggil mereka satu sama lain di tempat yang sama.”
“I don’t understand,” kata Louis.
“Intinya, jangan beritahu FBI kalau empat orang itu juga dipanggil, begitu sebaliknya,” jelas Harry.
“Yeah, karena menurut Vice Principal Hawk, kalau kita beritahu, mereka pasti tidak akan mau membantu.” kata Liam.
“Ketika mereka bertemu dengan Principal Rocque di DC, mereka tidak punya pilihan selain membantu. Hm, good plan.” kata Niall.
“Ngomong-ngomong, untuk apa Principal Rocque memanggil mereka?”
“Katanya penting, tapi aku tidak diberitahu detilnya,” kata Liam.
.
“Well—it’s just... four of you,” jawab Louis.
“Really?”
“Yep,” kata Niall.
“Besok malam, Principal Rocque akan bertemu dengan kalian di Washington DC.” kata Niall. “It’s really important.”
.
Kevin’s Office Room
Kevin sedang menikmati waktu bersantai yang sangat damai di ruangannya. Duduk di kursinya dengan kipas angin tepat mengarah padanya. Dia nyaris masuk ke tahapan relaksasi yang lebih dalam lagi sampai—
“Kev, something’s not right.”
“Oh, come on, Joe! Really?!”
“What?!” Joe langsung duduk di hadapan Kevin dan mengarahkan kipas angin ke arahnya. “Kau merasa ada yang aneh tidak dengan dua anak yang datang tadi?”
“Kurasa mereka jujur, tapi tetap ada yang salah. Dari semua orang yang dikenalnya, kenapa dia meminta bantuan kita?” kata Kevin.
“Dia minta bantuan agen federal, pasti ini sesuatu yang sangat serius, dan tersembunyi.” kata Joe.
“Dan mungkin berbahaya—“ tambah Kevin. Sejenak keduanya saling hening, sampai seorang perempuan memasuki ruangan Kevin.
“Excuse me, is it Mr. Lucas’ Office Room?” tanya perempuan beraksen Irish itu.
“Yep, and both of us are Lucas,” jawab Kevin.
“Well, aku mencari seseorang bernama Nick Lucas, siapa diantara kalian berdua yang bernama Nick?” tanya perempuan itu.
“None,” jawab Joe.
“What?”
“Kev, Danielle meleponku, katanya—“
“Yep, that’s the guy.” Kevin langsung memotong kata-kata Nick yang baru saja masuk ke ruangannya.
“Huh?”
“Hei, kau Nick? Nick Lucas?” tanya perempuan itu.
“Yep, may I help you?”
“I’m McLean, your people already met me once, and I’ve been wanting to meet you,”
“Wow, seorang wanita cantik sepertimu mencari Nick? Hati-hati, Nick, pacarnya tidak akan senang,” timpal Joe.
“No, he won’t. Dia sudah meninggal. That’s why I’m here. Nick yang memecahkan kasusnya waktu itu, jadi aku datang untuk berterima kasih,”
“Really?” Nick terlihat kurang yakin.
“Ya, dia korban pembunhan berantai. Karena itu kasusnya ditangani oleh Unit Analisa Perilaku,”
“Oh, makes sense.” jawab Nick. “Setidaknya dia tewas dengan tenang,”
“No, he’s brutally murdered and mutilated,”
“...Ow, okey...”
“Well, itu bukan masalah lagi,” perempuan itu tertawa kecil. “Thanks to you, sekarang pelakunya sudah tertangkap. Dan aku bisa menyaksikannya diekseskusi di kursi listrik, bangku kedua dari depan,” katanya.
Nick menerawang ke langit-langit, “Ya, aku ingat kasus itu. That was really horrible, membuatku tidak nafsu makan selama seminggu,”
“Aku sangat lega sekarang, dan aku mengucapkan banyak terimakasih. Sekarang kami semua bisa melepas kepergian pacarku dengan damai, you really helped us.”
“Not just me, we work as team—“
“But you’re the one who lead the case. You’re in charge. You helping dead people who can’t speak by their own and make this world safer.”
“Well—you’re welcome, then... I guess.”
Perempuan itu tersenyum, “I gotta go,” pamitnya.
“Wait, Mrs. McLean,”
“Hn?”
“Kalau kau butuh bantuan, kau bisa datang padaku,”
“I’d love to. Thanks.”
Dan perempuan itu pun pergi.
“Wow... Tidak ada yang pernah berterimakasih padaku setulus itu, malah hampir tidak pernah ada yang berterima kasih padaku,” kata Nick nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“The only problem is you don’t even ask her name! Apa artinya kalau cuma tahu nama keluarganya saja?” kata Joe.
“Itu tidak penting sekarang, Joe. Melihatnya tadi membuatku berfikir, kita memang harus membantu Gustavo.” kata Kevin. “That’s our duty as federal agent, right?”
“Yeah...” Joe dan Nick mengangguk setuju.
“Kalau kita bisa membantu orang asing yang tidak kita kenal, kenapa kita tidak bisa membantu orang yang memang kita kenal?” lanjut Kevin.
“Well, Kev. You’re the oldest awnyway, we’ll follow you.” kata Joe.
“Thanks, Joe.” balas Kevin. “Ngomong-ngomong, tadi kau mau bilang apa, Nick?” Kevin teringat pada kata-kata Nick sebelumnya.
“Oh, Danielle meneleponku—dia terdengar marah-, dia baru kembali dari Texas, mobilnya mogok di perjalanan, dan dia mencoba menghubungimu seharian, tapi tidak diangkat, makanya dia meneleponku.” kata Nick.
“Oh crap! Telepon genggamku tertinggal dirumah!” kata Kevin panik. Dia langsung mengambil jas-nya dan bergegas menjemput istrinya. Menyisakan Nick dan Joe berdua di ruangannya.
“Kau tidak bilang Danielle sekarang lokasinya dimana?”
“He... does... not... give me chance,”
.
Dallas, Texas
Harry masih menikmati kesendiriannya di apartment Zayn sambil menonton film ke-tujuh untuk hari ini. Teman-temannya belum kembali dari perjalanan mereka, Harry menduga mereka pasti keasyikan sendiri dan malah berjalan-jalan. Tiba-tiba—
Tok! Tok! Seseorang mengetok pintu apartment Zayn.
Harry berjalan ke depan dan membuka pintu, “Maaf, yang punya apartment sedang tidak disini,” kata Harry.
“Harry? Harry Styles, kan?”
“Ya?”
“I’m your Vice-Principal, Mrs. Kelly.” jawab wanita itu.
“You... what?”
“Aku cuma ingin menginformasikan kepulangan kalian ke UK, apartment Zayn ini dekat dengan milikku, jadi kupikir aku langsung mampir saja kesini.”
Harry membelak heran dan tidak percaya, “Tunggu, jadi kau benar-benar wakil kepala sekolah?”
“Ya, aku memang tidak pernah bertemu kalian langsung, aku baru saja pulang dari luar kota hari ini,”
Harry tidak menjawab. Dia hanya diam dengan wajah abstrak; bingung, kaget, dan wajah yang menunjukkan something-bad-is-going-to-happen.
Dia kini tahu, hal buruk akan terjadi, dan kepanikannya berlipat ganda karena tahu teman-temannya sampai sekarang belum kembali dan memberi kabar.